logo
Silakan Login untuk berbelanja. jika anda belum terdaftar menjadi member , silahkan daftar terlebih dahulu

Perempuan PSK, HIV/AIDS dan Tragedi


(Resensi Novel ‘Surga Sang Pramuria’)

Oleh: Astuti Parengkuh

 

Judul                 : Surga Sang Pramuria

Penulis              : Ullan Pralihanta

Jumlah Hal.       :  204

Penerbit             : AG Publisher

Tahun Terbit      : Cetakan Kedua, Maret 2013

Harga                :  40.000

 

            “Ketika hidup tak seindah refleksi nyata, perempuan sering dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Pertaruhan nyawa, harkat dan martabat, menjadi persaingan sengit agar hidup terus berjalan, yang akhirnya aset diri menjadi modal untuk dijual demi menyambung nyawa. Menjadi pramuria atau Pekerja Seks Komersial adalah salah satu pilihan terakhir dari banyak wanita yang menemukan jalan buntu, mereka termarjinalkan atas dasar kebrobokan moral : dihujat, dibenci, dan dianggap sampah tak berguna,” demikian kutipan Ullan Pralihanta pada Author’s Corner novel yang berjudul Surga Sang Pramuria. Ullan, 26 tahun, penulis wanita debutan memfiksikan penelitiannya seputar kehidupan kaum PSK dan tulisan ‘Based on True Story’ menjadi label pada kaver buku.

            Rasti, PSK yang mempunyai anak semata wayang, Galih, berkencan dengan Wibowo, seorang PNS. Mereka menjadi akrab ketika ngobrol bareng di sela-sela makan berdua di luar ‘tempat kerja’ perempuan PSK itu. Pembicaraan akhirnya menyentuh wilayah pribadi. Latar belakang keluarga Wibowo yang seorang duda terungkap bahwa dia mempunyai anak bernama Bonny seumur Galih. Dikisahkan, kedua anak itu nyaris mempunyai sifat kekanakan yang sama, salah satunya adalah dengan sering menyebut-nyebut kata ‘surga’ di sela-sela perbincangan antara anak dan orang tua mereka masing-masing. Diceritakan oleh Wibowo peristiwa tragis yang menimpa anaknya, Bonny tewas tergilas truk menyusul kematian sang ibu.

            Kekerasan-kekerasan domestik yang sering dilakukan oleh anggota keluarga sendiri (dalam hal ini oleh Rasti terhadap Galih) seakan menjadi elemen pelengkap kemiskinan. Pada suatu kejadian, Galih yang kedapatan bermain hujan-hujan dipukuli oleh Rasti. Galih yang terlahir dengan penyakit bawaan jantung bocor akhirnya terserang demam tinggi di tengah lelap tidurnya karena keletihan bermain hujan dan atas perlakuan kasar ibunya. Seorang tetangga yang baik hati, Mbak Salma menjadi pengasuh Galih saat anak itu ditinggal oleh ibunya bekerja.

            Perkenalan Rasti dengan seorang mucikari, Mami Helena justru dijembatani oleh Johan, yang notabene adalah ayah kandung Galih. Mereka tidak menikah dan kehamilan Rasti tidak diakui oleh Johan. Sejak malam itu Rasti menjalani pekerjaan sebagai pelacur yang melayani tamunya di ruangan remang berukuran 3x3 meter.

            “…Setelah berhasil melalui malam jahanam itu di sebuah bilik yang hanya berukuran 3x3 meter dan menjalankan tugas pertamaku sebagai seorang pramuria, aku ingin buru-buru pulang dan membersihkan diriku yang kotornya melebihi bangkai binatang.” (hal. 50)

Suatu saat Galih dirawat di ruang ICU dan dokter memvonis dia menderita Leukimia. Oleh dokter, Galih disarankan untuk operasi jantung terlebih dahulu sebelum pengobatan Leukimia dilakukan. Operasi jantung berbiaya 20 juta dan harus dilakukan di rumah sakit lain tak terlaksana karena ketiadaan biaya. Galih keluar rumah sakit dengan status ‘pulang paksa’.

Tak hanya itu, petugas kesehatan yang memeriksa secara rutin para penghuni warung remang-remang di mana Rasti bekerja menemukan hasil tes darah, dia positif mengidap virus HIV/AIDS. Rasti menyembunyikan hasil tes itu dari siapa pun. Sementara kegalauannya menjalar sebab dia tak ingin Galih tertular olehnya. Dari hasil  sample air liur Galih, dipastikan jika dia tidak mengidap virus mematikan itu. Tebersit kekhawatiran di benak Rasti, apakah Wibowo terjangkiti.

Sejak hasil tes darah menunjukkan dirinya mengidap virus HIV/AIDS, Rasti memutuskan berhenti bekerja dari Mami Helena. Suatu ketika di sebuah warung soto Rasti dan Galih bertemu dengan Mami Helena dan perempuan mucikari itu mendamprat Rasti. Mami Helena menagih utang-utang yang belum dibayar oleh Rasti. Rasti dipermalukan oleh mucikari itu di depan Galih dan banyak orang.

Wibowo bertandang ke rumah kontrakan Rasti dan bergembira setelah mendengar perempuan itu tak lagi bekerja kepada Mami Helena. Pada kesempatan itu pula Wibowo mengutarakan rasa cinta yang selama ini dipendamnya kepada Rasti. “ Ya. Pelan-pelan, rasa ini tumbuh tiba-tiba di hatiku, Ras. Meskipun kamu bukan Tiara, tapi aku menyimpan cinta yang sama seperti saat mencintainya,” (hal. 149) Wibowo tak butuh jawaban Rasti secepatnya. Dia kemudian sanggup membiayai operasi kebocoran jantung Galih. Di saat mereka sedang menemani Galih melakukan beberapa tes darah sebagai persiapan untuk tindakan operasi, Mami Helena kembali meneror Rasti lewat telepon dan menagih utang yang belum dibayar.   

Namun sayang, selagi operasi jantung yang sudah dijadwalkan belum terlaksana, Wibowo dan Galih mengalami kejadian tragis yang menghilangkan nyawa mereka. Mobil yang mereka tumpangi saat hendak pergi ke Mal bertabrakan dengan kontainer. Peristiwa yang nyaris bersamaan dengan kejadian huru-hara di rumah Rasti ketika Mami Helena mendatanginya dan meneriaki perempuan itu sebagai perempuan laknat yang menyembunyikan jati dirinya yang telah terinfeksi HIV/AIDS dan diduga menulari para pelanggan. Lagi-lagi Johan ayah kandung Gilang  datang dan dianggap sebagai dewa penolong oleh Rasti, padahal kedatangan Johan untuk memperkosa perempuan itu dan Rasti tak bisa menghindar sehingga peristiwa tragis terjadi.  Johan tewas bersimbah darah oleh pisau yang ditusukkan oleh Rasti tepat di tengkuk laki-laki itu.

Surga Sang Pramuria ditulis dengan bahasa lugas dan alur yang mudah dimengerti oleh pembaca. Hanya saja ada banyak bahasa yang terlalu vulgar ditulis oleh pengarang, sehingga novel ini tidak disarankan sebagai novel yang bisa dibaca oleh umum apalagi anak-anak, meski pengarang memasukkan tokoh anak serta beberapa dialog yang menyertainya bernapaskan islami. Sebaiknya pada kaver buku dibumbuhi tulisan ‘khusus dewasa’. Surga Sang Pramuria merupakan penggambaran kisah kelam seorang perempuan yang termarjinalkan oleh kemiskinan dan kebodohan.[]

 

BIODATA

Astuti Parengkuh, tertulis di KTP dengan nama : Puji Astuti. Dia seorang pengarang dan jurnalis yang lebih suka disebut sebagai ibu rumah tangga. Mengaku aktif di beberapa komunitas nonprofit.

 

Terbit di Tribunjogja, 26 Mei 2013